SENJA belum sepenuhnya pergi ketika gelak tawa merekah di tepi jalan Desa Sinar Rejeki. Di bawah langit Jati Agung yang bergradasi jingga keemasan, puluhan ibu-ibu berdiri berjajar, menyambut sesuatu yang telah lama mereka nantikan.
Bukan sekadar aspal dan beton yang mereka pandangi sore itu, melainkan jawaban dari doa-doa panjang yang selama puluhan tahun hanya terucap lirih dalam sujud dan munajat malam.
Kamis (15/1/2025) sore itu, senyum-senyum yang merekah bukan karena hadiah atau hiburan semata. Senyum itu lahir dari hal yang sederhana, namun bermakna besar: jalan desa yang kini terbentang mulus. Jalan yang dahulu berlubang, licin saat hujan, dan berdebu kala kemarau, kini berubah menjadi penghubung harapan.
Suasana semakin semarak ketika rombongan kendaraan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, tiba di lokasi peresmian ruas jalan Kotabaru–Sinar Rejeki. Tepuk tangan bergema, riuh rendah bercampur rasa haru yang sulit disembunyikan.
Bagi sebagian orang, pembangunan jalan mungkin rutinitas pembangunan biasa. Namun bagi warga Sinar Rejeki, hari itu adalah penanda berakhirnya penantian panjang.
Di tengah kerumunan, seorang ibu rumah tangga bernama Sunarti (53) melangkah ke depan, menerobos barisan protokol. Dengan napas tersengal dan tubuh bergetar karena gugup, ia berdiri di hadapan bupati, membawa suara hati banyak warga.
“Terima kasih, Pak Bupati,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca. “Sekarang jalan desa kami sudah bagus dan mulus. Terima kasih banyak,” katanya sambil memeluk erat Radityo Egi Pratama.
Ucapan sederhana itu menggema lebih kuat dari pengeras suara. Tepuk tangan pun pecah, diiringi mata-mata yang tak kuasa menahan haru.
Ungkapan serupa disampaikan tokoh masyarakat Jati Agung, Andi Warisno. Selama lebih dari setengah abad tinggal di wilayah tersebut, baru kali ini ia menyaksikan jalan desa dengan kualitas yang benar-benar layak.
“Sudah lebih dari 50 tahun saya tinggal di sini. Baru sekarang jalan desa kami sebagus ini,” tuturnya dengan nada mantap namun penuh emosi.
Menanggapi sambutan hangat warga, Bupati Radityo Egi Pratama menyampaikan bahwa pembangunan jalan tersebut bukan semata hasil kerja pemerintah, melainkan juga buah dari doa masyarakat—terutama doa para ibu.
“Mungkin jalan ini dibangun karena doa emak-emak semua,” ujarnya disambut tawa kecil dan senyum warga. “Pemerintah hanya menjalankan amanah.”
Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur merupakan kewajiban negara yang harus dilakukan secara adil dan merata. Jalan bukan sekadar sarana fisik, melainkan penggerak mobilitas, pendorong hasil pertanian, dan pembuka peluang ekonomi masyarakat.
Namun di balik rasa syukur itu, Bupati Egi juga mengingatkan pentingnya menjaga jalan yang telah dibangun. Ia meminta agar ruas tersebut tidak dilintasi kendaraan bertonase berat atau dijadikan arena kebut-kebutan.
“Ini milik kita bersama. Mari kita jaga dan rawat,” pesannya.
Ruas jalan Kotabaru–Sinar Rejeki yang diresmikan memiliki panjang total 4,6 kilometer. Sebanyak 2,97 kilometer dibangun dengan rabat beton mutu FC20 setebal 20 sentimeter dan lebar 4 meter, sementara 1,6 kilometer lainnya dilapisi hotmix selebar 3 meter. Proyek ini dibiayai melalui APBD Kabupaten Lampung Selatan Tahun Anggaran 2025 senilai Rp8,9 miliar dan dikerjakan oleh CV Batin Alam, dengan spesifikasi kelas jalan 3C dan kapasitas beban maksimal delapan ton.
Ketika matahari benar-benar tenggelam dan senja berganti malam, warga pun beranjak pulang. Ibu-ibu itu melangkah di atas jalan baru, membawa senyum yang masih tertinggal di wajah mereka.
Di Desa Sinar Rejeki, hari itu, sebuah jalan tak hanya menghubungkan dua wilayah—ia menyambungkan doa-doa lama dengan kenyataan yang akhirnya terwujud.