Warga Desa Triharjo, Kecamatan Merbau Mataram, Kabupaten Lampung Selatan, menunjukkan semangat kebersamaan dalam membenahi lingkungan desa. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengecat bagian tepi jalan dengan warna merah dan kuning.
Pengecatan dilakukan secara swadaya di sepanjang lebih dari satu kilometer jalan poros kecamatan. Agar tidak mengganggu aktivitas kendaraan, warga memilih mengerjakannya pada malam hari ketika kondisi lalu lintas lebih sepi.
Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari persiapan Desa Triharjo mengikuti Lomba Desa HELAU (Hijau, Elok, Lestari, Aman, dan Unggul) 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan.
Selain mengecat tepi jalan, warga juga melakukan berbagai pembenahan lainnya. Sejumlah dekorasi berbahan bambu dibuat untuk memperindah lingkungan. Kaum ibu turut terlibat dengan menata taman, menanam bunga dan tanaman obat keluarga, serta membersihkan kawasan sekitar permukiman.
Kepala Desa Triharjo Santoso mengatakan, berbagai kegiatan tersebut merupakan inisiatif masyarakat yang dilakukan secara bersama-sama. Menurutnya, budaya gotong royong masih menjadi bagian penting dalam kehidupan warga desa.
Pengecatan menggunakan warna merah dan kuning dipilih karena dinilai lebih mudah terlihat ketika terkena sorotan lampu kendaraan. Dengan begitu, batas jalan dapat terlihat lebih jelas, khususnya pada malam hari dan di sejumlah ruas yang memiliki tikungan.
Santoso menegaskan bahwa kegiatan gotong royong tersebut bukan semata-mata dilakukan karena adanya perlombaan. Masyarakat, kata dia, memang memiliki kebiasaan untuk saling membantu dalam melakukan berbagai kegiatan di lingkungan desa.
Semangat kebersamaan tersebut menjadi salah satu kekuatan Triharjo dalam menghadapi keterbatasan pendapatan asli desa. Berbagai pembenahan dilakukan dengan mengandalkan partisipasi masyarakat.
Dalam Lomba Desa HELAU 2026, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan menyiapkan anggaran sekitar Rp10 miliar untuk pembangunan di 40 desa terbaik. Desa yang meraih juara pertama akan memperoleh dukungan pembangunan infrastruktur senilai Rp1 miliar.
Juara kedua mendapatkan pembangunan senilai Rp700 juta, juara ketiga Rp500 juta, sedangkan juara harapan memperoleh Rp400 juta.
Bantuan tersebut tidak diberikan dalam bentuk uang tunai. Desa pemenang nantinya dapat mengusulkan pembangunan yang dianggap paling dibutuhkan untuk kemudian direalisasikan melalui pemerintah daerah.
Bagi Desa Triharjo, perbaikan infrastruktur jalan menjadi salah satu kebutuhan yang paling diharapkan apabila berhasil meraih juara pertama. Masih terdapat sejumlah ruas jalan dengan kondisi onderlagh. Beberapa bagian siring juga perlu ditata karena mengalami pelebaran akibat tergerus air hujan.
Menurut Santoso, pola penghargaan berupa pembangunan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Jika berhasil menjadi pemenang, hasil yang diperoleh akan kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan desa.
Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama mengatakan, Lomba Desa HELAU tidak ditujukan hanya untuk membuat desa terlihat bagus ketika dilakukan penilaian. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu membangun kebiasaan masyarakat dalam menjaga lingkungan dan mempertahankan budaya gotong royong.
Egi berharap kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya muncul selama perlombaan berlangsung, tetapi terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, pemberian penghargaan dalam bentuk pembangunan juga membuat manfaat perlombaan dapat dirasakan dalam jangka panjang. Infrastruktur yang dibangun akan kembali digunakan untuk memenuhi kepentingan masyarakat.
Pelaksanaan Lomba Desa HELAU dimulai dengan penilaian administrasi dan penginputan data desa. Tahap berikutnya adalah verifikasi lapangan oleh tim juri untuk menentukan 10 desa terbaik.
Dari 10 desa tersebut, lima desa terbaik akan diberikan kesempatan mempresentasikan berbagai keunggulan dan potensi wilayahnya di hadapan Bupati Lampung Selatan bersama tim penilai.
Bagi warga Triharjo, mengikuti lomba bukan hanya tentang mendapatkan hadiah. Sebelum proses penilaian berlangsung, masyarakat telah terlebih dahulu bergerak secara sukarela dengan menyumbangkan tenaga, waktu, dan biaya untuk memperbaiki lingkungan desa.
Hadiah pembangunan memang menjadi salah satu harapan, tetapi kekuatan utama mereka tetap berada pada semangat gotong royong. Warga berharap kebersamaan tersebut terus terjaga sehingga lingkungan Desa Triharjo semakin bersih, tertata, aman, dan nyaman meskipun perlombaan telah berakhir.